Langsung ke konten utama

Puisi | Peringatan Hari Bumi "Rumah"


Rumah

Akhirnya,
jiwaku tersesat di belantara asing,
kala selaras pandang netra,
tak bertemu dengan: permadani rimba,
hamparan cakrawala jingga,
mata air penyejuk dahaga,
kicau burung bernada bahagia,
kembang merona,

dan;
manusia-manusia yang masih punya rasa iba.

Sebab yang kulihat sekarang,
bukit nan permai tak lebih tinggi dari bukit sampah,
lautan damai tak lebih luas dari lautan limbah,
cerutu raksasa berpencar di mana-mana, dan
bising mesin bahkan sanggup mengalahkan merdu syair pujangga
—yang mencoba bersuara atas rapuhnya rumah kita.

Tidakkah kalian merasakan tangisnya?
Yang membawa hunian kalian tergenang
Tidakkah kalian merasakan getarannya?
Hingga mimpi dan tidur kalian tak tenang
Tidakkah kalian merasakan amarahnya?
Saat semuanya mulai memanas
dan kutub dunia bahkan tak bisa bertahan

Empatimu boleh binasa,
tapi satu yang harus selalu kau ingat:
bumi ini bukan jadi rumahmu saja,
ini rumah kita,
milik kita.


evi her.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi] | Novel "Write Me His Story"

Resensi Novel "Write Me His Story" Source :  https://www.goodreads.com/book/show/41550660-write-me-his-story 1. Identitas Buku Judul               : Write Me His Story Penulis             : Ary Nilandari Penerbit           : Pastel Books Tebal Buku     : 448 halaman Tahun Terbit   : 2018, Cetakan Pertama ISBN               : 978-602-6716-40-8 2. Sinopsis/Blurb : Wynter Mahardika tidak pernah menulis buku harian. Untuk apa? Enam belas tahun hidupnya berantakan. Mum, Dad, dan ibu tiri, hanya singgah sesaat lalu membiarkannya tumbuh seperti semak liar. Selain mata biru dan darah British-nya, tidak ada yang menarik untuk dicatat. Kejailannya pada cewek-cewek? Ah, itu cuma pelampiasan kebe...

Puisi | Peringatan Hari Kartini "Benderang"

Benderang Kemarin gelap tak kunjung berkurang, kami wanita-wanita bernasib malang, berjalan dalam langkah-langkah penuh larang, tak punya ruang lain selain ruang belakang. Kami lahir dalam tekanan diskriminasi, tumbuh namun tersingkir patriarki, membuat kami tak sempat meninggalkan hal berarti, saat kami mati. Hari ini Ibu terlahir, lantas mencari makna adil yang sekian lama tak kunjung hadir, menggelorakan bahwa semua ini harus segera berakhir. Ibu meyakinkan kami, jika kemarin gelap melingkari, maka sebuah perubahan akan datang hari ini, kami tidak akan hidup dalam kegelapan lagi. Ibu bilang, habis gelap, terbitlah terang, benar, besok semuanya akan terang, benderang. Banyumas, 21 April 2020 evi her

[Tapak Pertama] | Memulai Kembali

Halo. Lama tak berjumpa di dunia per-blog-an. Dulu aku pernah bikin blog, cuma udah lama nggak pernah tersentuh. Jadi, kuputuskan untuk membuat kembali. Vistuary sendiri aku pilih jadi nama blog-ku karena sejujurnya, awalnya blog ini mau kunamain pake nama pena. Tapi, akhir-akhir ini aku kurang sreg sama nama penaku sendiri. Setelah pusing akhirnya jreng! Aku pilih kata ini. Barangkali kalian nggak akan nemu artinya. Vistuary itu berasal dari kata "Estuary" yang artinya muara. Vi-nya dari namaku sendiri, jadi aku gabungin. Dengan kata lain, Vistuary ini kayak sebuah tempat yang jadi muaraku. Sebenarnya aku agak berdosa meninggalkan sepenggal karya yang belum usai di platform kepenulisan yang selama ini aku gunakan. Namun, akhir-akhir ini aku merasa jenuh. Alasanku kembali menulis di sini karena sebentar lagi liburan coi nanti aku gabut tidak bisa ngapa-ngapain jadi kuputuskan untuk menulis blog lagi. Isinya, apapun nanti, semoga kalian suka. Yang jelas, cata...