Derai-derai air turun dengan rasa takut pada cerita kelammu yang tak pernah kau sampaikan pada mereka, pada mimpi-mimpi yang kau simpan, bahkan pada dirimu sendiri Derai-derai air turun menciptakan sebuah permulaan bahwa hari ini kau mulai berhenti untuk terus mendengar—tapi juga ingin berbicara utarakan saja, teman utarakan segalanya seperti cerita-cerita orang lain yang mereka sampaikan kepadamu Derai-derai air turun menemanimu mengutarakan segalanya utarakan saja, teman utarakan, seperti lagu Banda Neira yang kudengar setiap waktu Lalu derai-derai air turun mulai tenang sudahkah kamu merasa lega hanya dengan bercerita? sudahkah kamu menemukan jawaban dari apa yang kamu cari sebelumnya? tidak perlu mengatakannya kepadaku karena satu-satunya orang yang memerlukannya adalah dirimu Sekarang derai-derai air mulai ingin berhenti tidurlah, teman tidurlah karena larut sudah malam ini seperti apapun yang kita bicarakan ...
Benderang Kemarin gelap tak kunjung berkurang, kami wanita-wanita bernasib malang, berjalan dalam langkah-langkah penuh larang, tak punya ruang lain selain ruang belakang. Kami lahir dalam tekanan diskriminasi, tumbuh namun tersingkir patriarki, membuat kami tak sempat meninggalkan hal berarti, saat kami mati. Hari ini Ibu terlahir, lantas mencari makna adil yang sekian lama tak kunjung hadir, menggelorakan bahwa semua ini harus segera berakhir. Ibu meyakinkan kami, jika kemarin gelap melingkari, maka sebuah perubahan akan datang hari ini, kami tidak akan hidup dalam kegelapan lagi. Ibu bilang, habis gelap, terbitlah terang, benar, besok semuanya akan terang, benderang. Banyumas, 21 April 2020 evi her